Halalkah Mengenakan Busana Seseorang yang Sudah Dikuburkan

Kebutuhan sandang adalah satu hal yang sulit dijauhkan dari kehidupan makhluk sosial. Sandangan merupakan kebutuhan primer terlepas dari papan lan pangan. Baju yang baik dan apik akan merefleksikan kepribadian kamu yang berakhlak pula. Sebaliknya, pakaian yang buruk akan memberi pandangan yang tercela bagi yang melihatnya.

Maka tidak salah apabila kenyataanya penampilan memang hal yang pokok dan sulit dipisahkan dari keseharian makhluk sosialmanusia.Sesuaii peribahasa Jawa yang menyebutkan “Ajining Ati Soko Lathi, Ajining Rogo soko Busono”.

Apabila diartikan ke bahasa Indonesia, pepatah di atas menerangkan “Cerminan hati bisa diamati dari cara berpikirnya. Cerminan tingkah lakunya dilihat dari cara ia berpakaian”.

Lalu bagaimana apabila pakaian yang kita kenakan merupakan baju bekas individu yang telah meninggal?

Bagaimana hukumnya kita menggunakan pakaian orang yang telah meninggal? Baca ulasannya di bawah ini.

Hukum Menggunakan Baju Orang yang Sudah Meninggal

Pada dasanya menggunakan busana orang yang telah wafat hukumnya tidak diharamkan. Halal hukumnya untuk menggunakan baju yang sudah dikuburkan. Terlebih jika busana itu dibagikan kepada kaum miskin.

Bila pakaian-pakaian itu didermakan kepada kaum fakir justru akan menambah ganjaran untuk keluarga yang sudah bersedia mewakafkannya. Meskipun tidak bersedia didermakan kepada kaum fakir, sanak keluarga yang ditinggal pergi pun bisa memakai beberapa pakaian bekas tersebut.

Beberapa pakaian itu tidak ada salahnya dipakai ketimbang mubadzir dimuat di dalam almari dan akan melapuk jika tidak pernah digunakan. Memubadzirkan barang justru haram hukumnya.

Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Isro’ ayat 27 yang berisi “Innalmubadzirrina kaanuu ihwana as syayathiin, wa kaana asyaithoni lirobbihi kufuron”

Makna dari ayat tersebut adalah :

Sesunggunhnya mubadzir adalah saudara-saudaranya setan. Dan sesungguhnya setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.

Nah, mungkinkah kita menjadi salah satu hamba-Nya yang mengingkari?

Memberikan kepada yang lebih Membutuhkan

Membagikan pakaian-pakaian dari orang yang telah meninggal halal hukumnya asalkan digunakan dengan wajar. Lalu menjadi haram jika beberapa pakaian itu berasal dari kain sutra.

Komposisi yang memiliki kandungan kain sutra dilarang hukumnya dipakai bagi pria. Itu sudah tertera dalam al-Qur’an dan hadits. Menjadi tidak halal pula apabila tidak ada kerelaan dan keikhlasan dari sanak keluarga yang ditinggalkannya.

Kemungkinan terdapat beberapa keluarga yang tidak mau mengikhlaskan pakaian-pakaian orang yang wafat karena itu berupa barang kenangan. Beberapa barang yang meninggalkan kenangan tertentu bagi yang diwarisi.

Masih sayang apabila pakaian itu diwakafkan pada orang lain yang kediamannya lumayan jauh dari posisi ia berada. Jika pihak keluarga sudah tidak mengizinkan dan merelakan maka kita tidak diperbolehkan mengharapkan pakaian-pakaian dari seseorang yang sudah meninggalkan. Keikhlasan yaitu suatu hal yang paling diutamakan di setiap sendi-sendi keseharian.

Sesuap nasi yang diberikan dengan tidak ikhlas saja bisa mengantar kita kesulitan menyusuri jalan menuju sirratal mustaqimnya. Apalagi jika itu adalah selembar kain? Atau sebuah sandangan?

Sejatinya, poin yang bisa diulas dari tulisan ini adalah hukum memakai baju atau pakaian orang yang wafat meninggal yaituh mubah atau boleh. Tak ada ayat Al-Qur’an maupun hadits yang mengisahkan tidak halal hukumnya menggunakan pakaian orang yang sudah wafat.

Satu yang menjadikan catatan pokok dalam hal ini adalah adanya keikhlasan dan kerelaan dari ahli ketika berniat memberikan pakaian itu pada yang kurang mampu. Wallahu a’lam bisshowab.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *